Jumat, 09 April 2010

Pola Pengasuhan Anak

Menurut Soetjiningsih (1995) pola pengasuhan adalah kemampuan keluarga terutama ibu untuk menyediakan waktu, perhatian dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik, mental dan sosial yang meliputi pemenuhan kebutuhan dasar anak, seperti pemberian makanan, mandi dan menyediakan serta memakaikan pakaian buat anak termasuk didalamnya adalah memonitoring kesehatan anak, menyediakan obat, dan merawat serta membawanya ke petugas kesehatan.

Pengasuhan anak merupakan tanggung jawab seluruh anggota keluarga dan masyarakat. Dimana tidak hanya anak saja yang perlu diberikan pengasuhan, calon ibu pun diberikan pengasuhan. Calon ibu diberikan asuhan oleh petugas kesehatan atau masyarakat secara prima agar dapat menjalankan fungsinya. Pengasuhan anak ini memerlukan penyediaan sejumlah waktu, respon pengasuh terhadap tanda yang diberikan anak, dukungan terhadap fisik dan mental serta sosial anak bagi proses pertumbuhan.

Pengasuhan anak merupakan bagian yang sangat penting dari proses sosialisasi yang dapat berakibta besar terhadapa kelakuan si anak jika dia sudah emnjadi dewasa. Hal ini terkait dengan kelakuan manusia yang bervariasi tergantung pada masyarakat yang dibicarakannya atau pendukung kebudayaan tersebut. Variasi-variasi itu diteruskan dari satu generasi ke generasi yang berikutnya melalui "sosial learning" (linton, 1962;127-129). Pengaruh kebudayaan pada keprbadian anak sangat besar dengan cirri-ciri kepribadian anak yang berkebudayaaan berlainan tidaklah sama. Hal ini disebabkan oleh sistem nilai kebudayaan masing-masing yang berbeda sehingga cara mengasuh dan mendidiknypun berbeda (linton, 1962 :119-121)

Proses sosialisasi bersangkutan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem sosial. Dalam proses itu seorang individu dari masa kanak-kanak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam perananan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari (koentjaraningrat, 1980;243). Sedangkan dalam konsep watak kebudayaan sebagai kesamaan regularities sifat di dalam organisasai intra psikis individu  anggota suatu masyarakat tertentu yang diperoleh karena cara pengasuhan anak yang sama di dalam masyarakat yang bersangkutan, (Margaret Mead dalam  James Danandjaja, 2005) Apabila ini dikaitka dengan konsep watak masyarakat dilandasi oleh pikiran untuk menghubungkan kepribadian tipikal dari suatu kebudayaan dengan kebutuhan obyektif   tersebut membentuk watak masyarakat dari masyarakat tersebut melalui latihan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak-anak mereka, sementara orang tua telah memperoleh unsur-unsur watak tersebut baik dari orangtuanya atau sebagai jawaban langsung terhadap kondisi-kondisi perubahan masyarakat.

Adanya perbedaan sifat-sifat kepribadian atau tempramen antara anak laki-laki dan anak perempuan tidak bersifat universal. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan kebudayaan struktur sosial, dan sejarah seperti yang dimiliki kaum wanita pada umumnya dimasayarkat ero-Amerika. Hal ini juga terkait dalam pergaulan adat mengenai seks, yang cukup berperan aktif dalam kebudayaan wanita. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila yang berias diri adalah kaum laki-lakinya pada masyarakat tchambuli berbeda dengan yang dimiliki kaum wanita pada masyarakat ero-amerika (Mead, 1935).  Misalnya pada wanita jawa dari kalangan atas, apabila berada di depan umum akan mempertunjukan kepribadian yang lembut, namun jika berada di rumah sendiri kepribadian seperti itu tidak akan dipertahankan, melainkan tergantung kepribadian perorangannya, situasi dan kondisi. Kepribadian yang lemah lembut itu adalah kepribadian yang ditentukan oleh kebudayaan Jawa bagi kaum wanitanya sebagai kepribadian formal, namun tidak formal lain lagi tergantung watak pribadinya serta situasi dan kondisi (Mead dalam Danandjaja, 2005 )

Pada orang jepang berkelebihan terhadap upacara kerapihan, dan ketertiban ada keinginan tersembunyi untuk berbuat agresif. Sifat seperti ini timbul sebagai akibat kebencian sewaktu bayi, yang di paksakan untuk melakukan sesuatu yang tidak ia mengerti, karena harus mengendalikan otot lubang duburnya, sebelum ia dapat menguasainya. Kebencian ini akan tetap merupakan sebagaian kepribadiannya setelah dewasa nanti.(Gorer, 1943) Disisi lain seoarang bayi rusia akan dibedong dengan erat dengan sehelai kain panjang yang mengikat tungkai bawahnya maupun tungkai atanya lurus dikedua samping tubuhnya. Alasan yang diberikan untuk membedong ini adalah seoarang bayi mempunyai potensi kekuatan yang sangat besar, jika tidak dibedong akan menyakiti tubuhnya sendiri. Pembedongan ini akan dilepas dari ikatan bedongnya sewaktu disusui saja dan dilakukan sampai usui Sembilan bulan. Pembedongan ini sangat menghambatbukan saja gerak fisik anak, melainkan juga ekspres emosial mlalui seluruh tubunya. Oleh karena itu dengan pembedongan ini jiwanya akan terkekang sehingga menimbulkan frustasi. Akibatnya timbulah manic depressive masal pada orang rusia dewasa pada umunya. Itulah sebabnya setelah dewasa orang rusia senang akan berpesta gila-gilaan dengan minuman keras. Tetapi dengan kondisi lain mereka merasa sedih dan dosa (Gorer, 1949).

Disisilain pola pengasuhan anak pada setiap suku bangsa, suku bangsa, atau masyarakat berbeda-beda. Bahkan dalam tiap keluarga bentuk pola pengasuhan anaknya tidak sama. Hal ini selain di pengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar juga oleh faktor kehdupan latar belakang. Misalnya latar belakang pendidikan, mata pencaharian, keadaan sosial dan ekonomi. Hal ini lah yang membuat pola pengasuhan anak berbeda-beda. Pola pengasuhan anak dalam keluarga pedagang berbeda dengan pola pengasuhan anak petani.

Sabtu, 20 Februari 2010

Perkembangan Bayi 1 tahun pertama

Disadur dari buku 365 Hari Pertama Perkembangan Bayi Sehat (2005, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.)

Karya : Theodor Hellbrugge dan J.H. von Wimpften,


 

Perkembangan selama kehamilan :

Bila seorang ibu pada waktu kandungannya berumur 36 hari menderita sakit campak, bayi yang dilahirkannya mungkin menderita katarak bawaan. Bila campak itu menyerang si ibu pada umur kandungan 46 hari, maka dapat terjadi kelainan jantung. Campak yang menyerang pada usia ke-62  maka dapat menyebabkan kerusakan pada lat pendengaran bagian dalam (auris interna) yang kemudian akan menyebabkan tuli atau gangguan pendengaran.

 

Musibah yang dibawa oleh obat penenang Contergan bila diminum ibu pada bulan-bulan akhir kehamilan, anak yang lahir tetap sehat. Contergan yang diminum pada umur kandungan 41 dan 44 hari, anak akan lahir tanpa kaki.

 

Masa yang sangat berpengaruh pada bayi adalah ketika bayi berada pada masa embrional (waktu organ tubuh dibentuk), yang berlangsung sampai kira-kira minggu ke-10 dari umur kandungan. Sebelum akhir bulan ke-3 dari kehamilan, organ-organ anak manusia telah lengkap dibentuk. Masa janin setelah bulan ke-3 kehamilan disebut periode fetal. Pada saat ini, organ-organ akan berkembang lebih lanjut dan akan menjadi lebih besar.

Kira-kira pada minggu ke-28 dari kehamilan, perkembangan sudah demikian jauh dan sehingga berangsur-angsur anak telah dapat hidup sendiri.

 

Bentuk-bentuk dasar perkembangan anak :

1.      Bentuk dasar perkembangan jaringan limfatik, yang berfungsi sebagai penahan infeksi

2.      Pertumbuhan tubuh secara menyeluruh

3.      Perkembangan organ kelamin (kemampuan seksual)

4.      Perkembangan sistem syaraf dari otak

 

Tahap perkembangan yang peka dan menentukan

a.       Dalam perkembangan fungsi-fungsi tubuh (jiwa, mental dan sosial) adalah tahap menentukan dalam perkembangan.

b.      Anak-anak yang terganggu pendengarannya bisa diperbaiki dan dilatih pendengarannya dengan bantuan alat dengar serta latihan Baby Audiometrie. Kesempatan ini hanya berlaku pada tahun-tahun pertama masa kanak-kanak, sampai usia 4 tahun

c.       Pendidikan berbicara pada masa kanak-kanak mempengaruhi keseluruhan kepribadiannya, jiwa, dan kecerdasan anak.

d.      Pada minggu pertama setiap harinya bayi memerlukan 6 kali waktu makan, 5 kali, dan 4 kali sehari. Di pusat perawatan penyakit anak di Munchen, ternyata bayi yang tidak mempunyai tokoh ibu secara tetap untuk waktu yang cukup lama akan mengalami kemunduran, terutama dalam perkembangan berbicara dan sosial.

e.       Tahap peka perkembangan sosial anak adalah umur 3 tahun. Jika pada tahap initidak atau kurang ada hubungan antarmanusia melalui tokoh ibu, maka gangguan perilaku bermain dan sosial sulit untuk diperbaiki.

f.        Persyaratan perkembangan sosial yang menentukan bagi anak-anak adalah adanya orang yang sama dan tetap, yang siap selama 5 sampai 6 jam sehari mencurahkan perhatian pada anak secara intensif dan juga adanya lingkungan yang tetap dan tidak berubah.

g.       Pada tahun pertama kehidupan anak, setiap pergantian orang yang mengasuhnya berarti suatu perusakan (perkembangan sosial, bicara, perilaku berprestasi).

 

 

Keterampilan-Keterampilan Bayi Pada Bulan Tertentu Dan Perilakunya Pada Tahap Tersebut

 

A. Bayi yang Baru Lahir

  1. Merangkak ; sikap bagian tubuh yang melengkung, mulai dari jari sampai tumit seluruh bagian badan, dan kepalanya menoleh ke samping
  2. Gerak reflek pada merayap

Bayi sehat akan menggerak-gerakkan kakinya. Bila ditelentangkan, ia berganti merentangkan kakinya dan menarik tangan ke dekat mukanya. Bila telapak kakinya ditekan, ia akan menggeserkan badannya ke depan apabila dia ditelungkupkan pada alas. Bebrapa saat dia akan mengangkat kepalanya, lalu berusaha keras menoleh ke sisi lain.

  1. Duduk ; kepalanya terletak di samping
  2. Berjalan ; ada reflek menarik jika tersentuh telapak kakinya Kakinya akan merentang (memegang) dan sebelah lagi melengkung.
  3. Memagang ; reflek jika jika telapak tangan tersentuh sesuatu, ibu jari akan mengepal dan mengenggam tangkapannya beberapa saat.
  4. Persepsi ; Bayi mengerutkan dahinya, mengejapkan matanya, dan menunjukkan gerakan kaget dengan merentangkan lengan atau malah menangis.
  5. Perilaku  sosial ; saat menyusui adalah pengalaman positif tentang adanya hubungan dengan orang lain
  6. Perkembangan berbicara dimulai dengan menangis keras-keras terhadap pengalaman yang tidak menyenangkan.

 

B. Bulan ke-1

  1. Kepala diangkat sebentar, paling sedikit 3 detik dalam sikap datar dan miring (menghadap ke samping).
  2. Duduk ; kepala terkulai untuk menahan berat, mengangkat kepala yang tertunduk selama 1 atau 2 detik. Latihan seperti ini tidak boleh dibiasakan karena membuat anak sulit bernapas.
  3. Berjalan ; jika anak kita tegakkan dan pegang , kedua kakinya akan reflek menegang sehingga kepalanya tegak sebentar.
  4. Memegang ; kedua tangan masih selalu dalam keadaan mengepal.
  5. Persepsi ; jika diletakkan kliningan merah di depan anak, kira-kira 20 cm, dia akan menatap kliningan itu.
  6. Perilaku sosial ; pada masa menyusui, anak merasakan perlindungan dan kasih sayang dari ibu. Anak akan merasa tenang jika digendong ibunya.
  7. Menangis ; sudah ada perbandingan suara tangis lapar atau kesakitan.

 

C. Bulan Ke-2

1.        Anak bisa mengangkat kepalanya dan menahannya selama 10 detik, membentuk sudut 45 derajat.

2.        Saat duduk, bayi bisa menegakkan kepalanya sekurang-kurangnya 5 menit dengan mengatur keseimbangan.

3.        Masa peralihan sehingga reflek pada kedua kaki dan gerakan melangkah menghilang.

4.        Sikap melengkung pada seluruh tubuh  bayi berkurang, kepalan tangan semakin terbuka.

5.        Persepsi ; Reaksi terhadap bunyi dan suara semakin meningkat

6.        Senyuman pertama merupakan hubungan timbal balik antara ibu-anak.

7.        Bayi mengeluarkan suara 'a' dan 'e', kadang diseliingin tambahan 'h' ('ehe' atau 'he'). Dilakukan bayi saat dia berbaring pada waktu sebelum tidur dan sesudah bangun.

 

D. Bulan Ke-3

  1. Kepala sudah bisa diangkat selama paling sedikit 1 menit, muka dengan alas membentuk 90 derajat.
  2. Kepala tidak lagi segera terkulai ke belakang, tetapi turut diangkat sebentar, sekurang-kurangnya pada waktu permulaan ditarik.
  3. Pada akhir 3 bulan pertama, bayi dapat menegakkan kepala paling sedikit selama 30 detik bila dia sudah didudukkan. Punggungnya melengkung karena belum bisa meluruskannya sewaktu duduk.
  4. Bila kita mengangkat sambil berdiri, dia berusaha meluruskan kedua kaki dan mengencangkannya.
  5. Jika diberi kliningan, dia akan memegangnya dan segera digenggam. Ia berusaha agar mainan itu menjadi miliknya.
  6. Jika kliningan digerakkan, bola matanya akan mengikuti gerakan tersebut.
  7. Bayi akan terenyum kepada objek yang berbentuk seperti manusia meskipun itu asing baginya.
  8. Akhir bulan ke-3, bayi mengeluarkan bunyi 'r' yang berurutan, seperti orang berkumur. Dia juga akan mengeluarkan bunyi 'e-khe', ek-khe', 'e-rhe', bila dia dibaringkan atau sedang berlega hati.

 

E. Bulan Ke-4

  1. Anak meninggalkan sikap bertopang pada lengan bawah, kepala, rongga dada, dan kedua lengan diangkat ke atas dan kedua kakinya terjulur lurus ke belakang, bahu ditarik ke belakang, kedua lengan ditengkukkan  dan telapak tangan terbuka.
  2. Anak turut mengangkat kepala jika didudukkan.
  3. Menahan kepala tetap tegak  meskipun badan dimiringkN
  4. Anak bermain dengan kedua tangannya, anak dapat mencapai garis tengah tubuh dengan kedua tangannya.
  5. Memasukkan mainan ke mulut, dimulai dengan meraba dengan tangan dan mulut. Anak gemar memperhatikan benda yang dipegangnya.
  6. Anak semakin sering tersenyum dan tertawa. Senyum pergaulan atau senyum sosial.
  7. Anak sering bergumam, dengan suara yang keluar 'w' atau' f', tetapi juga mirip 's' atau 'th'.

 

F. Bulan Ke-5

  1. Anak menggulingkan badannya dari telungkup hingga terlentang
  2. Kepala menunduk ke depan sehingga dagu hampir menyentuh dadakedua lengan dan kaki menekuk ketika ditarik untuk didudukkan.
  3. Kemampuan bertumpu dengan kedua kaki semakin berkembang. Pada usia ini, cukuplah kalau anak kita pegang dengan lembut pada ketiaknya. Biasanya anak berdiri di atas ujung jari kakinya.
  4. Bila diletakkan mainan, anak akan mengoceh  gembira saat melihat benda itu dan mengerakkan tangannya untuk menyentuh benda tersebut.
  5. Antara bulan ke-4 dan ke-6, kulit tidak lagi memerankan peranan utama dalam pengamatan. Benda-benda optis yang bergerak dapat mempesona bayi selama beberapa menit tanpa melelahkan otot matanya.
  6. Bayi mulai dapat memahami air muka dan nada suara ibunya bila berbicara.
  7. Anak tidak bertambah keterampilannya dalanm mengucapkan suatu kata.

 

G. Bulan Ke-6

  1. Anak bertopang dengan lengan yang ditegakkan,agak lama. Tangan sudah tidak mengepal lagi. Berat badan bertumpu pada perut dan lengan. Bila ia ingin menjangkau sesuatu di depannya, ia merentangkan tangannya untuk mencapainya dengan membuat gerakan berenang, tetapi belum bergerak maju.
  2. Kebanyakkan bayi senang jika ditarik untuk didudukkan. Bila orang tua memgang tangan si bayi, ia akan segera mengenggamnya erat. Dia sudah bisa mengatur sikap kepalanya jika didudukkan.
  3. Anak akan menjangkau mainan yang ada  dengan tepat dengan satu tangan.
  4. Anak bisa memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lain.
  5. Bayi sudah memiliki pendengaran dan perhatian yang tajam, sehingga suara gemerisik pun akan membuat anak menoleh ke arah suara itu.
  6. Anak membedakan orang yang dikenal (tersenyum)dan tidak dikenalnya.
  7. Anak merangkaikan sukunkata yang sama berturut-turut, misal 'da-da-da'. Kadang bunyi suku kata yang sama dan berirama.

 

H. Bulan Ke-7

  1. Anak membalikkan badan dari terlentang hingga telungkup
  2. Bila anak dibaringkan, dia suka memegang dan memainkan kakinya.
  3. Bila dipegang oleh orang dewasa pada ketiaknya, ia lalu jongkok dan mendorong tubuhnya dengan mengencangkan pinggul, lutut, dan sendi paha hingga berdiri (gerak melonjak).
  4. Anak mampu memegang  benda dengan tepat pada kedua tangannya dan membolak-balikkan benda itu.
  5. Anak akan mencari benda yang terlepas dari tangannya.
  6. Anak suka bermain 'Ciluk-Ba'
  7. Anak mengoceh dengan keras dan nada yang berbeda.

 

I. Bulan Ke-8

  1. Anak bisa memutar badannya untuk bergerak maju.
  2. Anak akan memegang tangan orang tuanya lalubergantung pada jari orang tuanya, ia mengangkat badannya hingga duduk.
  3. Bayi sudah dapat duduk sendiri hingga beberapa detik setelah diangkat dan didudukkan.
  4. Jika dimiringkan, bayi akan bertopang ke samping pada tangan yang lain.
  5. Bayi masih senang melonjak-lonjak
  6. Anak sering bermain dengan benda-benda yang di balik dan ditimang-timangnnya dengan kedua tangan.
  7. Bertambah besar perhatian anak akan hal-hal yang kecil
  8. Anak takut atau menahan diri kepada orang yang tidak dikenalnya.
  9. Anak mulai memperhatikan kegiatan orang di sekitar
  10. Tertarik dengan bayangannya di cermin dengan tersenyum dan menyapa bayang tersebut.
  11. Bayi dapat berbicara dengan perlahan /berbisik.

 

J. Bulan Ke- 9

  1. Anak sudah bisa merayap
  2. Bayi sudah bisa duduk bebas selama 1 menit, 1/3 tubuh sebelah bawah sudah lurus.
  3. Anak akan bertopang ke depan, belakang, atau samping jika tubuhnya didorong saat ia duduk.
  4. Berdiri tegak selama beberapa detik
  5. Menjatuhkan benda-benda dengan sengaja
  6. Tertarik pada bunyi yang perlahan
  7. Bayi dapat mengambil benda yang ada dalam wadah, mampu membedakan wadah.
  8. Awal bermain' Petak Umpet'
  9. Anak mulai merangkai suku kata yang sama, "da-da", "ba-ba"

 

K. Bulan Ke-10

  1. Kemampuan pengamatan bayi berkembang terus, termasuk terhadap hal-hal yang kecil.
  2. Bayi lebih seksama memperhatikan orang yang ada di sekitarnya dan berusaha menirukannya.
  3. Bayisangat senang jika keinginannya diperkenankan. Ia senang mengulang hal-hal yag membuat dia dipuji.
  4. Bayi sudah bisa diajak bercakap-cakap dan menjawab pertanyaan ibu jika ibu bertanya
  5. Bayi bisa mengerti apa yang dikatakan orang lain padanya dan mencari benda atau orang yang ditanya padanya.

 

L. Bulan Ke-11

  1. Bayi bisa merangkak dengan 2 kaki
  2. Bayi sudah bisa duduk bebas dengan keseimbangan yang mantap
  3. Bayi sudah bisa berjalan ke samping dengan berjalan merambat pada perabot rumah tangga.
  4. Bayi berjalan bila kedua tangan dipegang
  5. Bayi sudaah bisa memegang atau memungut benda yang kecil
  6. Bayi bisa mengingat benda da bentuk benda dengan jelas dan mencari benda itu jika disembunyikan
  7. Bayi mampu mnarik benda yag diikatkan dengan tali
  8. Bayi makan sendiri dengan tangan
  9. Bayi minum dari cangkir dengan kedua tangannya
  10. Bayi sudah bisa mengerti kata 'larangan'
  11. Bayi bisa mengungkapkan suku kata pertama yang mempunyai arti

 

Jumat, 15 Januari 2010

SOP INJEKSI INTRAMUSKULER

Status Dokumen

  Induk                           Salinan                        No.Distribusi

 

 

Puskesmas Tumpang

PROTAP

INJEKSI INTRA MUSKULAR

 

No Dokumen

 

PT- TUMPANG RWT INAP-01

No Revisi

 

00

Halaman

 

1/1

PROTAP

 

RAWAT INAP

Tanggal Terbit

 

21 April 2008

Disetujui oleh,

Kepala UPTD Puskesmas Tumpang

 

 

 

dr. Sri Ratna Murti P

NIP. 140228521

Pengertian

Injeksi intramuskuler adalah suntikan kedalam otot

Tujuan

Sebagai acuan tindakan suntikan kedalam otot

Kebijakan

Dibawah tanggung jawab dan pengawasan dokter

Prosedur

Penatalaksanaan

A. INDIKASI :

1.       Pada psien yang memerlukan suntikan i.m.

2.       Atas perintah dokter.

B. PERSIAPAN :

1.       Disp. Spuit

2.       Kapas alcohol

3.       Bengkok

4.       Aquabidest steril

5.       Gergaji ampul

6.       Tempat sampah/bengkok

7.       Obat yang dibutuhkan

8.       bak instrumen

C. PELAKSANAAN :

1.       Inform concern

2.       Baca daftar obat, larutkan obat yang dibutuhkan,  isi spuit sesuai dengan kebutuhan

3.       Cocockan nama obat dan nama pasien.

4.       Baca sekali lagi sebelum menyuntikan pada pasien.

5.       Atur posisi dan tentukan tempat yang akan disuntik.

6.       Desinfeksi lokasi yang akan disuntik.

7.       Jarum disuntikkan pada daerah yang akan disuntik dengan arah 90 derajat.

8.       Penghisap ditarik sedikit, bila ada darah obat jangan dimasukkan.

9.       Obat disemprotkan perlahan-lahan

10.   Setelah obat masuk seluruhnya jarum ditarik dengan cepat.

11.   Kulit ditekan dengan kapas alcohol sambil melakukan masase.

12.   Pasien dirapikan

Perhatian :

Penyuntikan harus tepat dan betul, bila salah akan dapat mengenai saraf.

Unit terkait

RAWAT JALAN, UGD, KABER, PUSTU/POLINDES

Kamis, 05 November 2009

TUJUH HAL YANG DI UCAPKAN ORANG TUA KE PADA ANAK

(psikologi jiwa anak)



Bicara pada anak, kelihatannya memang sepele. Tapi percayalah, jika tak jeli  memilih kata-kata dan kalimat, bisa berdampak buruk bagi si kecil.
 

Tak mau, kan, buah hati jadi tak punya percaya diri, merasa dirinya jadi  pecundang, atau terus-menerus diliputi rasa bersalah?
 

Sering, kan, kita dengar seorang ibu menegur balitanya dengan ucapan, "Kalau  kamu enggak nurut, nanti Ibu tinggal!" Maksudnya, sih, supaya si anak menurut.  Tapi yang sebetulnya terjadi, "ancaman" seperti itu hanya membuat perasaan anak  terluka. Orang tua sering lupa, kalimat yang dilontarkan pada anak, amat  berpengaruh pada rasa percaya diri, kesehatan emosional, dan kepribadiannya.  Dengan kata lain, ada hubungan kuat antara kalimat yang dipakai dengan sikap dan  tingkah anak kelak.
 

Sederet kata memang bisa berdampak positif, juga negatif. Asal tahu saja,  bahasa bisa jadi salah satu sumber kekerasan terhadap anak. Pendek kata,  perhatikan dan pilih betul kata-kata yang akan disampaikaan pada buah hati.
 

Kalau emosi sedang memuncak, coba, deh, tinggalkan si kecil sejenak, tarik  napas dalam-dalam, jalan-jalan, atau minum air putih. Emosi pun akan turun dan  kita jadi bisa berpikir lebih tenang. Setelah itu, baru ajak anak berkomunikasi. 
 

Berikut sejumlah kalimat tabu untuk dilontarkan pada si buah hati.
 

1. "Gara-gara kamu, Ayah dan Ibu jadi pisah."
Tak seorang anak pun bisa  dijadikan alasan perceraian orang tuanya. Seorang anak tak selayaknya menanggung  beban yang sedemikian berat. Meski hal itu benar adanya dan disampaikan dengan  halus, tetap saja anak akan merasa sangat bersalah. "Seandainya saya tak nakal,  pasti Ayah dan Ibu enggak pisah," begitu yang seringkali timbul di benaknya. 
 

2. "Kalau enggak berhenti menangis, Ibu tinggal kamu di sini!"
Ketakutan  terbesar dari seorang anak adalah berpisah atau ditinggalkan sendirian. Apalagi  oleh orang tuanya. Mengancam anak dengan kalimat seperti itu dengan tujuan anak  mau menuruti perintah dan berhenti melakukan suatu tindakan, jelas tidak bijak.  Lebih bijaksana jika memberinya pilihan. Misalnya, "Sayang, jika kamu tetap saja  berteriak-teriak seperti itu, lebih baik kita pulang saja, ya. Ibu baru mau  meneruskan belanja kalau kamu berhenti berteriak-teriak. Terserah, kamu mau  pilih yang mana?" Alternatif lain adalah dengan mengalihkan perhatian anak atau  menghentikan kegiatan untuk sementara. Siapa tahu, Anda atau si kecil memang  sudah capek dan perlu istirahat.
 

3."Mestinya kamu malu pada diri sendiri."
Rasa bersalah akan segera  menyergap anak jika kita mengucapkan kalimat seperti itu. Sementara orang tua  justru yakin, kalau anak merasa bersalah, ia pasti bakal mengubah kelakuan dan  jadi menurut. Memang, rasa bersalah atau rasa malu bisa membuat seseorang,  termasuk anak, mengubah perilakunya sesuai yang diharapkan. Namun, jangan salah.  Pada saat yang sama, ia juga akan merasa dirinya sebagai pecundang. "Saya memang  anak nakal, tak bisa bikin orang tua senang," "Saya selalu salah," dan  sebagainya. Ujung-ujungnya, rasa percaya diri anak menurun drastis.
 

4. "Kami tak pernah mengharapkan kamu."
"Nyesel rasanya Ibu melahirkan  kamu! Kalau tahu kamu bakal senakal ini, lebih baik kamu tak lahir saja."  Kalimat seperti ini sungguh tak bisa diampuni. Tak peduli apa kesalahan anak  atau selembut apa pun disampaikan, tetap saja tak dibenarkan untuk dilontarkan.  Sebab, hanya menunjukkan ada yang tak beres dalam hubungan orang tua dan anak.  Jika ini yang terjadi, segera cari tahu, apa yang salah dalam hubungan dengan si  kecil. kalau perlu, segera minta bantuan ahli.
 

5. "Kenapa, sih, enggak bisa seperti adikmu?"
Saat orang tua  membandingkan anak dengan saudaranya, berarti salah satu di antaranya dianggap  kurang. Kalimat ini membawa pesan pada anak, ia tak lebih pandai, tak lebih  baik, dan tak lebih cakap dibanding saudaranya. Kalimat, "Kamu memang tak  seperti kakakmu," akan membuatnya merasa dikucilkan dan bisa berdampak hingga ia  dewasa.
 

Membanding-bandingkan antara saudara juga akan menciptakan persaingan tak  sehat di antara mereka. Alhasil, mereka jadi "hobi" bertikai dan akhirnya  merusak hubungan antar-anak. Terimalah setiap anak dengan segala kelebihan dan  kekurangannya. Ingat, tiap anak adalah individu unik.
 

6. "Pokoknya lakukan seperti kata Ibu!"
Kalimat ini membawa pesan, "Kamu,  kan, anak kecil,tahu apa, sih? Ibu, kan, lebih tahu dan lebih pintar. Tugas saya  adalah memberi tahu dan tugas kamu adalah mematuhi apa yang saya katakan!"
 

Kalimat ini akan menciptakan kebencian pada diri anak. Lain halnya jika  disampaikan dalam bentuk yang bisa mengundang empati anak, semisal, "Ibu  benar-benar capek, Sayang."
 

7. "Sini, biar Ibu yang bikinin."
"Sini, biar Mama yang kerjakan," "Kali  ini, Ibu mau bantu kamu." Jika kalimat-kalimat itu selalu dilontarkaan setiap  kali anak mendapat kesulitan, sama artinya dengan menciptakan rasa tak berdaya  atau tak mampu dalam diri si kecil. Cara ini juga membuka peluang bagi anak  untuk melakukan hal yang sama di masa depan.
 

Kalau cuma dilakukan sekali, sih, tak masalah. Tapi dua kali, berarti pola  sudah tercipta. Tiga kali dan seterusnya? Berarti Anda sudah menciptakan  pekerjaan baru bagi diri sendiri. 
 

ORANG TUA BAIK, ANAK JUGA JADI BAIK
 

Memberi anak motivasi agar berperilaku baik, sebetulnya tak sulit, kok. Orang  tua pun tak perlu menggunakan sikap otoriter yang justru bikin anak tertekan. 
 

* Ubah sikap
 

Orang tua adalah model bagi anak. Jadi, coba cari tahu, apa yang membuat anak  melakukan hal-hal yang tak Anda "setujui." Bisa saja, mereka meniru dari Anda.  Coba catat, apa perilaku baik yang dilakukan anak minggu ini dan catat pula apa  yang Anda lakukan di minggu yang sama. Jika Anda berlaku "baik," bisa dipastikan  anak pun akan bertingkah baik pula.
 

* Buat aturan main
 

Apakah Anda sudah membuat aturan yang jelas di dalam keluarga? Termasuk untuk  anak-anak Anda? Misalnya, setiap bangun tidur harus membereskan sendiri tempat  tidur. Aturan akan membantu anak melakukan hal-hal positif tanpa kita perlu  bersikap keras. Yang tak kalah penting, bersikaplah konsisten. Sekali Anda  berkompromi dan melanggar aturan, anak pun akan punya cara untuk keluar dari  aturan. Caranya? ya, dengan cari-cari alasan agar tak perlu ikut aturan.
 

* Cintai buah hati
 

Anak, di usia berapa pun, selalu ingin membuat orang tuanya senang. Mereka  adalah makhluk yang dipenuhi kasih. Tak ada anak yang berniat mencelakakan  ibunya, kan? Perhatian dan cinta orang tua yang tulus dan tanpa pamrih pada  mereka adalah motivator terkuat bagi anak.
 

* Tetapkan tujuan
 

Apa, sih, sebetulnya tujuan Anda mendidik dan membesarkan anak? Coba tulis,  apakah Anda ingin membesarkan anak menjadi orang yang penuh cinta kasih atau  yang disiplin, dengan cara apa pun? Nah, cermati betul, apa kira-kira hasil yang  akan diperoleh dari tujuan tadi.  (Tabloid Nova)

Selasa, 04 Agustus 2009

PENGETAHUAN DAN FAKTOR YANG BERPERAN

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Menurut pendekatan kontruktivistis, pengetahuan bukanlah fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap obyek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia dan sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru.

Proses mengkonstruksi pengetahuan, manusia dapat mengetahui sesuatu dengan menggunakan indranya melalui interaksinya dengan obyek dan lingkungan, misalnya dengan melihat, mendengar, menjamah, membau, atau merasakan, seseorang dapat mengetahui sesuatu. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan, melainkan sesuatu proses pembentukan. Semakin banyak seseorang berinteraksi dengan obyek dan lingkunganya, pengetahuan dan pemahamannya akan obyek dan lingkungan tersebut akan meningkat lebih rinci.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan


1. Faktor Internal
Faktor internal adalah hal-hal didalam individu itu sendiri yang mempengaruhi terbentuknya pengetahuan. Faktor tersebut adalah:

a. Pendidikan
Adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seeorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya.

b. Usia
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik.

c. Pengalaman pribadi
Dalam kehidupannya individu mengalami kejadian dan peristiwa yang datang silih berganti. Tidak sedikit yang merekam kejadian atau peristiwa tersebut dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman pribadi mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang, sehingga mereka menjadikannya sebagai acuan dalam mengambil keputusan.

2. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah hal-hal di luar individu yang mempengaruhi terbentuknya pengetahuan yaitu lingkungan di sekitar individu itu sendiri, kebutuhan individu akan informasi, tingkat sosial ekonomi dan media masa yang merupakan suatu sarana yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat misalnya majalah, tv, radio dll (Hurlock, 1999).

a. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu.

b. Sosial ekonomi
Status sosial ekonomi seseorang akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.

c. Media massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayan orang. Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut.

Kamis, 23 Juli 2009

Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Pembangunan Kesehatan Lingkungan

Berkaitan dengan pembangunan kesehatan lingkungan, perlu disadari bahwa keberhasilan pencapaian tujuan-tujuan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah selaku penanggung jawab dalam pembangunan, namundemikian hasil dari pelaksanaan pembangunan kesehatan lingkungan juga dipengaruhi oleh keterlibatan masyarakat seperti yang disampaikan oleh Bintoro Tjokroamidjojo, menyatakan sebagai berikut tentang partisipasi :
Keberhasilan pencapaian tujuan-tujuan pembangunan memerlukan keterlibatan aktif dari masyarakat pada umumnya tidak saja dari pengambil kebijaksanaan tertinggi, para perencana, aparatur pelaksana operasional, tapi juga dari petani-petani, nelayan, buruh, pedagang kecil, para pengusaha, dan lain-lain, keterlibatan ini disebut juga partisipasi (Bintoro Tjokroamidjojo, 1995 : 20).

Kesediaan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan ternyata membutuhkan pengertian masyarakat. Mubyarto menyatakan partisipasi sebagai kesediaan untuk membantu berhasilnya setiap program sesuai kemampuan setiap orang tanpa berarti mengorbankan diri sendiri. (Mubyarto 1985 :102)

Bentuk keterlibatan atau partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesehatan lingkungan antara lain :
1. Partisipasi perorangan dan keluarga
Partisipasi ini dilaksanakan oleh setiap anggota keluarga dan anggota masyarakat dalam menolong dirinya sendiri dan keluarga untuk dapat hidup sehat. Hal ini dicerminkan dengan kemampuan untuk mengatasi masalah kesehatan. Masalah lingkungan dan masalah perilaku sesuai dengan kemampuan perorangan dan keluarga.

2. Partisipasi masyarakat umum
Ini meliputi kegiatan untuk menjalinhubungan yang erat dan dinamis antara pemerintah dan masyarakat dengan cara memnembangkan dan membina komunikasi timbal balik terutama dalam hal memberikan masukan, memberikan umpan balik dan menyebarluaskan informasi tentang kesehatan. Disamping itu, masyarakat diminta agar turut secara aktif dalam mengenal dan merumuskan masalah, menentukan prioritas, merencanakan kegiatan-kegiatan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, menggerakkan pelaksanaan dan menyediakan sumberdaya.

3. Partisipasi masyarakat kelompok penyelenggara upaya kesehatan
Maksudnya dengan kelompok penyelenggara upaya kesehatan di sini ialah yayasan-yayasan yang memberikan pelayanan kesehatan, praktek profesi, dan semacamnya. Kegiatannya meliputi kegiatan yang dilaksanakan baik secara perorangan maupun secara kelompok antara lain berupa :
a. Penyelenggara pelayanan kesehatan seperti balai pengobatan swasta, rumah bersalin swasta, dokter praktek swasta dan semacamnya.
b. Penyelenggara pendidikan dan latihan tenaga kesehatan baik tenaga kesehatan formal, maupun tenaga kesehatan yang berasal dari masyarakat (kader).
c. Usaha menghimpun dana secara gotong royong


Partisipasi masyarakat profesi kesehatan
Kelompok profesi kesehatan meliputi kelompok dokter, dokter gigi, apoteker, perawat, bidan dan sejenisnya. Kegiatannya meliputi :
a. Pelayanan kesehatan
b. Pelayanan peningkatan sikap positif dan perilaku yang mendukung upaya pemerintah dalam penyelenggaraan upaya kesehatan
c. Membantu pemerintah dalam hal pengaturan profesi kesehatan tanpa mengurangi kewenangan pemerintah dalam fungsi pengaturan profesi dan lain-lainnya.
Dalam penelitian ini kaitan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan sangat erat. Karena dengan adanya masyarakat yang secara sadar menolong diri sendiri dan keluarganya untuk hidup sehat serta memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah kesehatan lingkungan, hal ini berarti merupakan suatu cerminan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan lingkungan, karena mau tidak mau lingkungan terletak di sekitar masyarakat.


Faktor status social ekonomi merupakan faktor yang sangat dominan dalam menentukan dinamika kehidupan seseorang, sehingga tidaklah mengherankan bila pada akhirnya berbagai tingkatan kehidupan masyarakat dan pekerjaannya telah menimbulkan pelapisan social dan pembedaan social. Hal inilah yang akan menimbulkan berbagai macam partisipasi dari masyarakat dalam pembangunan kesehatan lingkungan berbeda-beda. Sehubungan dengan hal ini Suparlan mengatakan bahwa :
“Kondisi seseorang yang berstatus social ekonomi tinggi tersebut berbeda dengan yang berstatus social rendah. Orang yang berstatus social ekonomi tinggi mudah untuk memenuhi kebutuhannya. Orang yang berstatus social ekonominya rendah hanya ada waktu untuk makan, bekerja dan tidur, orang seperti ini terus-menerus bekerja hanya sekedar untuk menyambung hidupnya”. (Parsudi Suparlan, 1984 : 14)
Dari pernyataan di atas jelas bahwa seseorang yang memiliki status social ekonomi tinggi, maka ia akan mudah memenuhi kebutuhan-kebutuhannya baik bersifat primer (sandang, pangan, papan dan kesehatan) maupun bersifat sekunder (radio, televisi, kendaraan bermotor dll).
Jadi sangat jelas sekali bahwa masyarakat yang berstatus social ekonomi tinggi akan dapat dijadikan dorongan bagi timbulnya kesadaran untuk memelihara kesehatan lingkungannya dari pada masyarakat kalangan ekonomi rendah yang hanya memikirkan bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.


DAFTAR PUSTAKA :
Mubyarto, 1985, Peluang dan berusaha di Pedesaan, BPFE, Yogyakarta
Purbakawatja, Soegarda, 1970, Pendidikan dalam Alam Indonesia Merdeka, Gunung Agung, Jakarta
Soekanto, Soerjono, 1990, Sosiologi Suatu Pengantar, Raja Grafindo Persada, Jakarta
Sukarni, Mariyat, 1994, Kesehatan Keluarga dan Lingkungan, Kanisius, Yogyakarta
Tjokroamidjojo, Bintoro, 1976, Pengantar Administrasi Pembangunan, LP3ES Jakarta

PEMBANGUNAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Proses pembangunan tidak terlepas dari sikap seseorang dalam memahami arti pembangunan, pengertian pembangunan dapat dilihat dari pendapat :
Bintoro Tjokroamidjojo berpendapat :
“Pembangunan adalah merupakan suatu proses pembaharuan yang terus menerus dari keadaan tertentu kepada suatu keadaan yang dianggap lebih baik” (Bintoro Tjokroamidjojo 1982 : 22)

Sedangkan menurut Sub Dinas Pembinaan Kesehatan Lingkungan, pengertian pembangunan adalah pengelolaan lingkungan hidup untuk menghasilkan barang dan jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. Akan tetapi selain bermanfaat bagi manusia, setiap kegiatan pembangunan ada dampak negatif yaitu pencemaran lingkungan, yang pada akhirnya mempunyai dampak terhadap kesehatan manusia. Salah satu upaya untuk mencegah atau mengurangi pencemaran lingkungan tersebut ialah dengan usaha kesehatan lingkungan.

Proses pembangunan di bidang kesehatan lingkungan tidak terlepas dari sikap seseorang dalam memahami arti kesehatan . Kesehatan adalah keadaan sempurna dari jasmani, rohani dan social, dan tidak hanya bebas dari penyakit cacat dan kelemahan. (UU N0.9 1982 tentang pokok-pokok kesehatan).
Kesehatan merupakan salah satu segi dari kualitas hidup yang tercermin pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia, yang meliputi sandang, pangan, perumahan, kesehatan, kesempatan memperoleh pekerjaan dan pendapatan yang layak, kebebasan dari rasa takut dan rasa tidak tentram, kebebasan memeluk agama/kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kesempatan untuk mengembangkan daya cipta serta berkreasi, yang sesungguhnya merupakan tujuan dan sasaran pokok pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Sedangkan lingkungan dapat diartikan secara mudah sebagai segala sesuatu yang berada di sekitar manusia.

Selanjutnya yang dimaksud dengan segala sesuatu di sekitar manusia tersebut dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, yakni :
a. Lingkungan fisik
Yang berupa tanah, air dan udara serta interaksi satu sama lain diantara faktor-faktor tersebut. Dalam interaksi ini ketiga faktor tersebut dapat mewujudkan berbagai barang yang beraneka ragam.
b. Lingkungan biologis
Yang masuk kategori ini ialah semua organisme hidup, baik binatang, tumbuhan, mikro organisme, kecuali manusia itu sendiri, karena manusia dimasukkan dalam lingkungan social dalam bentuk interpersonal relationship.
c. Lingkungan sosial
Adalah semua bentuk dari hasil interaksi ini adalah berupa social budaya, social ekonomi,psiko-sosial dan lain-lain social budaya terdiri dari nilai-nilai, adat istiadat, kebiasaan, dan norma.

Dengan demikian, maka kita dapat pula mengatakan bahwa lingkungan adalah kumpulan dari semua keadaan atau kekuatan dari luar yang mempengaruhi kehidupan dalam perkembangan dari satu organisme hidup, yakni manusia itu sendiri.
Jadi secara keseluruhan kesehatan lingkungan dapat diartikan sebagai lingkungan yang berakibat atau mempengaruhi derajat kesehatan manusia itu sendiri.



DAFTAR PUSTAKA
Undang-undang No.4 Tahun 1982 Tentang Pokok-pokok Ketentuan Lingkungan hidup
Undang-Undang No.9 Tahun 1960 Tentang Pokok-pokok Kesehatan
Azwar, Azrul, 1979, Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan, Mutiara, Jakarta